Rabu, 08 Februari 2017

FASILITAS UMUM

SALURAN IRIGASI

Di desa Klompang Barat sendiri sudah terbangun saluran irigasi. Saluran irigasi ini bersumber dari sumber mata air yang berada di desa ini sendiri, yang tak pernah kering di sepanjang musim. Mayoritas masyarakat memanfaatkan irigasi ini sebagai komponen untuk pengairan sawah di lahan mereka. Sebelum masyarakat beralih untuk menanam padi sacara terus-menerus, masyarakat pernah menanam padi hanya pada musim penghujan yang mengandalkan sistem tadah hujan sebagai sistem pengairan mereka. Sedangkan apabila musim kemarau, masyarakat lebih menanam tembakau karena konsumsi air pada tanaman tembakau ini tidak terlalu besar daripada padi. Disebabkan musim yang berubah – ubah untuk beberapa tahun terakhir membuat masyarakat mensiasati dengan membangun saluran irigasi untuk penanaman tanaman padi mereka sehingga dapat dihasilkan 3 kali panen dalam setahun.

SUSUNAN KEPENGURUSAN PEMERINTAHAN DESA KLOMPANG BARAT


Senin, 06 Februari 2017

POTENSI LAHAN



Masyarakat desa Klompang Barat umumnya berprofesi sebagai petani, karena di desa Klompang Barat banyak hamparan sawah yang dapat dimanfaatkan oleh warga sebagai mata pencaharian diantaranya, padi, tembakau dan jagung. Alat yang digunakan untuk membajak sawah bukan lagi menggunakan sapi (binatang ternak), sebagian besar masyarakat menggunakan traktor dengan alasan efisiensi waktu. Lahan yang digunakan untuk bercocok tanam ada yang milik sendiri, ada juga yang sewa kepada orang lain. Hasil pertanian yang dihasilkan warga kebanyakan dikonsumsi sendiri dan bisa dijual disekitar warga desa Klompang Barat.

Masyarakat di desa Klompang Barat sebagian besar cenderung masih berpegang teguh pada budaya-budaya tradisional. Mereka hanya sebatas mengolah dan memasarkan hasil bumi secara sendiri-sendiri meskipun di desa Gadding sudah ada kumpulan kelompok tani. Faktor lainnya yang belum mendukung keberadaan industri desa di desa Klompang Barat ini yaitu akses atau jalan yang masih belum layak. Akses ke beberapa dusun juga sulit dijangkau. Sehingga hal ini menyebabkan investor diluar desa Klompang Barat ataupun masyarakat desa Klompang Barat yang berkeinginan mendirikan industri di desa masih berpikir dua kali.

LOKASI DESA KLOMPANG BARAT



Desa Klompang Barat merupakan desa yang terletak di kecamatan Pakong kabupaten Pamekasan yang mana termasuk salah satu desa dari 12 desa di kecamatan Pakong yang mempunyai jarak 15 Km dari kota kabupaten. Dari hasil wawancara para tokoh dan perangkat desa tidak ada sumber apapun yang menjelaskan tentang latar belakang sejarah dan kapan berdirinya Desa Klompang Barat. Desa Klompang Barat memiliki luas administrasi 3.071 Ha atau 30,71 Km2 dan memiliki 4 Dusun yang terdiri dari Dusun Nangger, Dusun Sumber Batas, Dusun Krajan dan Dusun Pao Bawang dengan batas - batas wilayah sebagai berikut : 

  1. Sebelah Utara : Desa Sedur
  2. Sebelah Timur : Desa Klompang Timur
  3. Sebelah Selatan : Desa Palalang
  4. Sebelah Barat : Desa Bicorong
Secara letak dan geografis Desa Klompang Barat termasuk daerah dataran tinggi dengan ketinggian dari permukaan laut 254 M dengan curah hujan 283 mm/bln. Luas wilayah menurut jenis penggunaan tanah didominasi oleh sawah seluas 199 Ha, bangunan dan pekarangan seluas 11 Ha, ladang dan tegalan seluas 3 Ha, dan pemukiman umum seluas 11 Ha serta luas wilayah yang dapat digunakan untuk bercocok tanam seluas 202 Ha, maka dari itu tanah dikawasan Klompang Barat termasuk kawasan yang subur.

Jumat, 27 Januari 2017

SEJARAH DESA KLOMPANG BARAT


Sejarah berdirinya pemerintahan Desa Klompang Barat, berdasarkan wawancara dengan tokoh kunci dan telaah pustaka, tidak satupun sumber yang dapat memastikan kapan tahun berdirinya pemerintahan Desa Klompang Barat. Klompang Barat merupakan desa yang dipimpin oleh kepala desa yang dipilih langsung oleh masyarakat melalui PILKADES. Adapun kepala desa yang pernah menjabat hingga sekarang adalah sebagai berikut :
  1. Kae Nima                     (1865-1900)
  2. H. Usman (Angken)     (1900-1935)
  3. Mudinar                        (1935-1936)
  4. Sagira                           (1936-1937)
  5. Sabar                            (1938-1939)
  6. Mukawat                      (1939-1943)
  7. Sermawi                       (1943-1971)
  8. Musahab (PLT)            (1971-1975)
  9. Murengsang                 (1975-1991)
  10. Muradji                        (1991-2007)
  11. Baida'i                          (2007-2013)
  12. Samsul Arifin              (2013-sekarang)